Pelayanan dan adminitrasi Rumah Sakit Umum (RSU) Zainoel Abidin, Banda Aceh, Jalan Tgk Daud Beureuh, No. 108, Banda Aceh, yang cukup rumit dan membingungkan ternyata banyak dikeluhkan warga sekitar dan warga luar daerah. Jumat (20/5/16).
Seperti yang dialami Hendra dan istrinya Devi, warga jalan Umar Baki, Kelurahan Payaroba, Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai, saat itu dirinya sedang membawa anaknya, Izzat (3.5) berobat kerumah sakit tersebut untuk mengobati kening anaknya yang terluka robek.
Saat berada di UGD, dirinya didatangi seorang perawat yang langsung menanyakan maksud dan tujuan datang ke RSU tersebut.
"Tiba-tiba datang perawat nanyak maksud kedatangan kami, saya bilang kalo saya mau mengobati kening anak saya yang terluka," jelas Hendra.
Saat itu, lanjut Hendra, perawat langsung meminta agar mengisi formulir untuk pengobatan dengan alasan agar pengobatan bisa dilaksanakan, sebab, dari formulir ini lah diketahui daftar antrinya. "Mereka nyuruh isi formulir agar pengobatan bisa dilaksanakan, sebab itu salah satu adminitrasi rumah sakit, dan kening anak saya harus dijahit karena lukanya robeknya" ujarnya.
Setelah mengisi formulir, masih kata Hendra, kemudian perawat menyodorkan satu lembar kertas yang bertuliskan sejumlah nama obat-obatan dan meminta untuk menebus obat tersebut ke apotik RSU.
"Saya heran juga, kok anak saya belum diperiksa, belum dilakukan pengobatan, kok uda disuruh tebus resep obatnya ke apotik, namun saya tetap menuruti perosedur yang ada karena saya ingin anak saya cepat ditangani, saat saya tanya berapa harga obat, yang jaga apotik bilang nanti saja usai pengobatan bayar dikasir," pungkasnya.
Curiga dengan hal ini, Hendra bersama istrinya kemudian menanyakan kepada salah satu dokter yang akan menangani pengobatan anaknya terkait berapa biaya yang harus dikeluarkan. Kemudian dengan mudah dokter tersebut mengatakan, untuk biaya obat anti titanus dikenaikan biaya Rp 400 ribu, sementara biaya jahit berkisar Rp 200 hingga Rp 300 ribu.
"Ngeri kali biayanya, masa cuma dua jahitan dikenakan biaya Rp 700 ribu lebih. Jelas ini harga yang tak normal, dan saya merasa dipermainkan," pungkas Hendra.
Karena biaya yang begitu besar, Hendra akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengobati anaknya di RSU tersebut, dan mengembalikan obat yang telah diambilnya dari apotik RSU. Saat itu juga, seorang petugas rumah sakit menanyakan kartu keluarga (KK) kepadanya.
"Ada KK bapak, kata petugas rumah sakit, saya bilang kalau saya pendatang dari Binjai, jadi tidak membawa KK, kalau tidak ada KK, bapak tidak bisa berobat disini, ujar petugas tersebut. Kok saya mau berobat malah ditanyai KK, itu rumah sakit atau Kantor Camat, heran juga saya," cetusnya.
Kemudian Hendra dan istrinya membawa anaknya berobat ke Klinik Zahra, saat berada disana, dengan ramah dokter langsung menyambut baik dan melakukan pengobatan dengan biaya jauh lebih murah dari RSU Zainoel Abidin, Banda Aceh.
Hal senanda juga dikatakan Ipah, warga Jalan Tgk Daud Beureuh, Banda Aceh, "disini memang rumit, kita yang mau bayar kontan saja berobat merasa rumit adminitrasi disini, apalagi kalau menggunakan BPJS, bisa-bisa kita dibiarkan saja sama mereka," ungkapnya saat berbincang-bincang di rumah sakit tersebut.(hdr)
Curiga dengan hal ini, Hendra bersama istrinya kemudian menanyakan kepada salah satu dokter yang akan menangani pengobatan anaknya terkait berapa biaya yang harus dikeluarkan. Kemudian dengan mudah dokter tersebut mengatakan, untuk biaya obat anti titanus dikenaikan biaya Rp 400 ribu, sementara biaya jahit berkisar Rp 200 hingga Rp 300 ribu.
"Ngeri kali biayanya, masa cuma dua jahitan dikenakan biaya Rp 700 ribu lebih. Jelas ini harga yang tak normal, dan saya merasa dipermainkan," pungkas Hendra.
Karena biaya yang begitu besar, Hendra akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengobati anaknya di RSU tersebut, dan mengembalikan obat yang telah diambilnya dari apotik RSU. Saat itu juga, seorang petugas rumah sakit menanyakan kartu keluarga (KK) kepadanya.
"Ada KK bapak, kata petugas rumah sakit, saya bilang kalau saya pendatang dari Binjai, jadi tidak membawa KK, kalau tidak ada KK, bapak tidak bisa berobat disini, ujar petugas tersebut. Kok saya mau berobat malah ditanyai KK, itu rumah sakit atau Kantor Camat, heran juga saya," cetusnya.
Kemudian Hendra dan istrinya membawa anaknya berobat ke Klinik Zahra, saat berada disana, dengan ramah dokter langsung menyambut baik dan melakukan pengobatan dengan biaya jauh lebih murah dari RSU Zainoel Abidin, Banda Aceh.
Hal senanda juga dikatakan Ipah, warga Jalan Tgk Daud Beureuh, Banda Aceh, "disini memang rumit, kita yang mau bayar kontan saja berobat merasa rumit adminitrasi disini, apalagi kalau menggunakan BPJS, bisa-bisa kita dibiarkan saja sama mereka," ungkapnya saat berbincang-bincang di rumah sakit tersebut.(hdr)