BELAWAN - Kecelakaan kerja yang menewaskan Afni (35) merupakan karyawan PT Waruna Sentana Belawan, mendapat sorotan serius dari anggota DPRD Medan, HT Bahrumsyah.
Ditegaskan Ketua Komisi B DPRD Medan ini menuding perusahaan yang bergerak dibidang galangan kapal telah mengabaikan keselamatan kesehatan dan kerja (K3). Pasalnya, tewasnya mandor clening saat membersihkan tangki di ruang tanpa hampa oksigen, sudah berulang kali terjadi, sehingga perusahaan dinilai tidak punya safety prosedur kerja.
"Kita anggap PT Waruna terlalu menyederhanakan persoala. Kita tahu, apa masuk ke dalam tangki penuh resiko tinggi. Perusahaan mengabaikan pedoman tentang prosedur terhadap kerja beresiko tinggi, itulah K3," ungkap wakil rakyat akrab disapa Bahrum, Jumat (28/12).
Selama ini, kata Ketua DPD PAN Kota Medan, kecelalaam kerja di perusahaan itu sudah sering terjadi. Pihaknya akan konsentrasi untuk pengawasi perusahaan tersebut. Agar, peristiwa yang sudah tidak terjadi lagi kedepannya, perusahaan tidak hanya semudah itu mengganti nyawa dengan santunan.
"Ini akan segera kita tindaklanjuti, karena banyak persoalan yang ditimbulkan di perusahaan itu, baik itu soal masalah PHK sepihak terhadap karyawan yang berserikat. Ini ada pelanggaran serius, makanya kita akan segera panggil pihak perusahaan," tegas Bahrum.
Mengenai kecelakaan kerja itu, lanjut Bahrum, mendesak agar pihak kepolisian tetap mengusut kasus itu, karena ada pelanggaran pidana yang menjerat perusahaan. Agar, pihak perusahaan tidak arogansi terhadap aturann peraturan yang merugikan sepihak terhadap karyawan.
"Kita minta kepada bapak kapolres, untuk mengusut kasus ini sampai tuntas. Jangan hanya sebatas santunan, sehingga kasus itu berhenti. Ini benar - benar pelanggaran berat, jadi harus diproses," ungkap Bahrum.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Jerico mengatakan, pihaknya sudah menangani kasus kecelakaan kerja itu, untuk sementara 2 orang saksi telah dimintai keterangan.
"Kita juga masih menindaklanjuti kasusnya, dengan melakukan pemeriksaan lanjutan. Untuk sementara belum ada ditetapkan sebagai tersangka," terang Jerico.
Perlu dijelaskan, tewasnya Afni merupakan mandor clening, terjadi saat melakukan pembersihan kapal yang masuk galangan atau dok. Pekerjaan dikerjakan oleh 2 karyawan diawasi oleh Afni, tiba - tiba dua karyawan berada di dalam tongkang kekurangan oksigen. Lantas, Afni mencoba menolong dua temannya, tak disangka mandor clening itu terjebak bersama temannya di dalam tongkang kahabisan oksigen.
Karyawan lain mengetahui kejadian itu melakukan pertolongan terhadap Afni dan 2 temammya dengan membawa ke RS Martha Friska. Setibanya di rumah sakit, mandor clening itu akhirnya tewas karena sesak kehabisan oksigen. (mu-1).