Pembangunan PLTA Batang Toru Mengadopsi Praktek Terbaik
Termasuk untuk Menangani Orangutan
![]() |
PLTA Batang Toru. |
MEDAN |
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru dibangun tidak di atas sesar.
Proyek ini diciptakan dengan struktur tahan gempa dengan mengadopsi praktek
terbaik dari ketentuan nasional dan internasional. Jadi PLTA Batang Toru Aman.
DR. Ir. Didiek Djarwadi, M.Eng, tenaga ahli dari PT North
Sumatera Hydro Energy (NSHE) yang merupakan pakar dalam kegempaan dan
bendungan, mengatakan sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam wilayah
gempa karena berada di ring of fire. Namun bukan berarti tidak boleh membangun
apapun di wilayah Indonesia. “Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah kita
harus membangun dengan memenuhi standar yang dipersyaratkan,” kata dia.
Menurut Didiek Djarwadi, PLTA Batang Toru dibangun untuk
tahan gempa yang mengacu pada standar dan peraturan terbaru yang berlaku,
seperti pedoman untuk desain dan pelaksanaan bendungan beton dari Balai
Bendungan, dan International Commission on Large Dams (ICOLD).
“PLTA Batang Toru telah memiliki kajian-kajian yang
dipersyaratkan termasuk geologi dan geofisika, termasuk Seismic Hazard
Assessment dan Seismic Hazard Analysis,” kata Didiek. Jika bendungan dibangun
sesuai standar dipersyaratkan maka bangunan tersebut akan tahan gempa. Contoh
dia, PLTA Singkarak tidak mengalami kerusakan walaupun ada gempa terjadi di
Sumatera Barat.
Didiek Djarwadi memaparkan hal tersebut saat menjadi
saksi fakta di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan dari pihak Pemerintah
Provinsi Sumatera Utara, Senin (14/1), di Medan.
Saksi fakta lainnya yang dihadirkan Ir. Hadi Susilo, MM,
pakar hidrologi dan bangunan air, mengatakan pembangunan PLTA Batang Toru telah
melalui kajian komprehensif dan mengadopsi praktek terbaik sehingga dipastikan
akan ramah lingkungan.
“Dalam hal ini kami tidak membendung air. Kami beroperasi
dengan menampung air dan air tetap mengalir ke hilir selama operasi,” kata Hadi Susilo. Jadi aliran sungai tidak
terganggu dengan adanya bendungan karena dari bendungan akan dilepas menerus
(24 jam) dari bendungan yang cukup untuk river maintenance/ maintenance flow.
Jadi sistem operasional memakai Run Off River Hydropower. Prinsip kerjanya
adalah memanfaatkan aliran air sungai tanpa perlu daerah genangan luas.
Menurut Hadi Susilo, berdasarkan prinsip kerja tersebut
maka pembangunan PLTA Batang Toru tidak menyebabkan banjir di wilayah hilir.
Secara historis banjir di wilayah hilir telah terjadi sejak sebelum adanya
pembangunan PLTA Batang Toru. Sejak lama sebelum ada rencana pembangunan PLTA
Batang Toru wilayah di Kawasan hilir ada siklus mengalami debit air yang
meningkat di Sungai Batang Toru.
Kelestarian Orangutan
Pembangunan PLTA Batang Toru mengadopsi praktek terbaik
yang dipersyaratkan. Dalam hal ini PLTA Batang Toru melakukan juga studi
populasi orangutan dan satwa liar lainnya berkoordinasi dan dipandu Balai
Litbang LHK dan BBKSDA. Selain itu juga dilakukan monitoring terhadap satwa
liar.
Proyek berada di areal penggunaan lain (APL) pada
ketinggian di bawah 436 m dpl, sedangkan habitat utama orang utan di Kawasan
konservasi dan hutan lindung pada ketinggian di atas 600 m dpl.
Untuk mengantisipasi dampak terhadap individu orang utan
yang mungkin lewat (menjelajah) wilayah sekitar proyek perusahaan melakukan
langkah-langkah mitigasi di antaranya, memberlakukan kebijakan “zero tolerance”
terhadap kepemilikan satwa liar kepada semua pekerja dan tamu, memberikan
panduan perilaku jika berjumpa satwa liar di lokasi proyek, memantau sepanjang
hari keberadaan satwa liar di lokasi dan memberlakukan mekanisme, “Stop work
procedure” apabila keberadaan satwa membahayakan, sesuai dengan Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, perusahaan melaporkan dan berkoordinasi
dengan BBKSDA apabila diperlukan tindakan terhadap satwa liar, serta membangun
jembatan arboreal untuk memfasilitasi satwa arboreal melintasi areal terbuka
akibat proyek. (red)