Cuaca Ekstrim, Nelayan Pantai Labu Enggan Melaut

Sebarkan:


Pantai Labu - Sejak seminggu belakangan terjadi cuaca ekstrem di perairan selat Malaka, nelayan menyebutnya musim pasang mati. Pasang mati merupaka fenomena alam, di mana air laut di pesisir tenang, tapi di tengah laut terjadi ombak besar, Jum at (26/04/19).

Akibatnya, ikan tidak muncul di permukaan laut bahkan susah di tangpak, menyebabkan hasil tangkapan rendah.

Tentu saja, dampak itu menyebabkan distribusi ikan rendah mempengaruhi hargra ikan naik di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), pantai labu Deliserdang. 
Sekretaris  HNSI Kecamatan Pantai Labu jgmenerangkan, perubahan musim di laut sudah terotasi dalam tiap tahun ini dikatakan musim paceklik. Artinya, selain gelombang tinggi, ikan juga susah diperoleh. Dari pada tak dapat hasil, lebih baik nelayan tidak melaut.

“Kita lihat di pinggiran air tenang, tapi di tengah ombak besar. Makanya sangat mengancam keselamatan di tengah laut,” katanya.
Dengan demikian, pasokan ikan akan berkurang di TPI  Sehingga, harga ikan mengalamai kenaikan. Misalnya, harga ikan tongkol biasanya Rp30 ribu perkilo, bisa sampai Rp40 ribu per kilo. “Di pasaran, harga ikan sudah tidak stabil,” cetus Alfian.

Dari hasil pengecekan di lapangan, diketahui harga kepiting laut dari Rp 35 ribu per kilogram merangkak naik Rp60 ribu per kilogramnya.

Untuk ikan jenis gembung dari biasanya Rp25 ribu per kilogram kini menjadi Rp35 ribu per kilogram, ikan selayang dari Rp23 ribu naik menjadi Rp30 ribu. Begitu juga dengan harga udang dari biasanya Rp65 ribu per kilogram naik menjadi Rp90 ribu per kilogram.

Sedangkan kepiting batu (bakau) dari Rp40 ribu naik Rp65 ribu per kilogramnya, begitu juga dengan jenis ikan lainnya rata-rata naik Rp10 ribu per kilogramnya dari harga sebelumnya.

“ikan mahal karena banyak nelayan tidak melaut dan cuaca lagi ekstrem. Makanya pasokan ikan menurun, sementara permintaan pasar tinggi,” kata pedagang (wan).

Sebarkan:

Baca Lainnya

Komentar