ACEH UTARA - Pernyataan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara Dapil II Zubir dianggap telah menjustifikasi berbagai kritikan yang selama ini dilontarkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Rakyat Aceh Membangun (GRAM) kepada lembaga legislatif di Kabupaten Aceh Utara tersebut demi kemajuan Aceh Utara yang ternyata membuat Para wakil rakyat tersebut merasa gerah dan tersinggung.
Demikian disampaikan Muhammad Azhar selaku Ketua GRAM, yang dimintai tanggapan oleh media ini di sebuah warung kopi di Aceh Utara, Jumat (19/6/2020).
"Rakyat di Aceh Utara harus hati-hati jika mau mengkritisi DPRK Aceh Utara, karena akan difitnah dan disudutkan oleh anggota lembaga paling terhormat di Aceh Utara itu," ucap Azhar.
Azhar menyayangkan sikap dan pernyataan seorang wakil rakyat yang seakan anti kritikan dan dengan mudah menjustifikasi siapapun yang mencoba mengkritisi DPRK Aceh Utara.
"Sungguh tidak pantas seorang wakil rakyat yang terhormat bisa mengeluarkan kata-kata fitnah dan juga menyerang pribadi siapapun yang mengkritisinya, ini sungguh sangat disayangkan, seolah-olah anggota dewan itu anti kritik," ungkapnya.
Padahal, menurut Azhar, lembaganya dalam melakukan kritikan selama ini tidak pernah menyerang pribadi, bahkan tidak pernah sebutkan nama secara personal.
"Apalagi nama Saudara Zubir jelas tidak kita sebutkan disitu. Kita hanya mengkritisi DPRK Aceh Utara dan itu secara kelembagaan, wajar kan?," tanya Azhar.
"Seorang rakyat mengkritisi wakilnya dalam hal kebijakan publik karena mereka disitu kita gaji, apalagi yang kita sampaikan itu merupakan murni aspirasi rakyat Aceh Utara, seharusnya beliau sebagai wakil rakyat itu tahu dan mengerti bahwa kritikan merupakan bentuk masukan bagi anggota dewan, sehingga mereka dapat bekerja lebih baik," tambahnya.
Masyarakat juga dapat menilai dari fasilitas yang diterima anggota Dewan berbanding terbalik dengan kinerjanya yang masih jauh dari harapan masyarakat, dan perlu juga diketahui bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin berpotensi dia dikritik.
Demikian disampaikan Muhammad Azhar selaku Ketua GRAM, yang dimintai tanggapan oleh media ini di sebuah warung kopi di Aceh Utara, Jumat (19/6/2020).
"Rakyat di Aceh Utara harus hati-hati jika mau mengkritisi DPRK Aceh Utara, karena akan difitnah dan disudutkan oleh anggota lembaga paling terhormat di Aceh Utara itu," ucap Azhar.
Azhar menyayangkan sikap dan pernyataan seorang wakil rakyat yang seakan anti kritikan dan dengan mudah menjustifikasi siapapun yang mencoba mengkritisi DPRK Aceh Utara.
"Sungguh tidak pantas seorang wakil rakyat yang terhormat bisa mengeluarkan kata-kata fitnah dan juga menyerang pribadi siapapun yang mengkritisinya, ini sungguh sangat disayangkan, seolah-olah anggota dewan itu anti kritik," ungkapnya.
Padahal, menurut Azhar, lembaganya dalam melakukan kritikan selama ini tidak pernah menyerang pribadi, bahkan tidak pernah sebutkan nama secara personal.
"Apalagi nama Saudara Zubir jelas tidak kita sebutkan disitu. Kita hanya mengkritisi DPRK Aceh Utara dan itu secara kelembagaan, wajar kan?," tanya Azhar.
"Seorang rakyat mengkritisi wakilnya dalam hal kebijakan publik karena mereka disitu kita gaji, apalagi yang kita sampaikan itu merupakan murni aspirasi rakyat Aceh Utara, seharusnya beliau sebagai wakil rakyat itu tahu dan mengerti bahwa kritikan merupakan bentuk masukan bagi anggota dewan, sehingga mereka dapat bekerja lebih baik," tambahnya.
Masyarakat juga dapat menilai dari fasilitas yang diterima anggota Dewan berbanding terbalik dengan kinerjanya yang masih jauh dari harapan masyarakat, dan perlu juga diketahui bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin berpotensi dia dikritik.
"Jika tidak mau dikritik jangan jadi DPR dong," imbuhnya.
Terkait tuduhan anggota dewan tersebut mengenai pernyataannya yang tidak mendasar itu, Alumni Sekolah Demokrasi Aceh Utara ini membantah keras akan tuduhan tersebut dan juga menanggapi bahwa pernyataan itu sangat mendasar dan jelas berdasarkan pernyataan Ketua DPRK Aceh Utara yang sebelumnya telah dimuat di beberapa media, baik itu media online maupun media cetak.
"Tidak mendasar apanya, kan jelas-jelas kita menanggapi pernyataan DPR yang sebelumnya telah dimuat dibeberapa media, baik itu media online maupun media cetak, dan publik pun sudah membaca berita tersebut. Saya heran dengan saudara Zubir, ada apa ini sebenarnya dengan dia ini, banyak sekali tuduhan-tuduhan yang tidak mendasar yang terus diutarakan kepada kita, mulai dari provokasi, statement yang tidak mendasar, hingga bahkan menaikkan pamor dan elektabilitas partai, kan sangat tidak masuk akal," jelas Azhar.
Seharusnya Zubir yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRK dan juga anggota DPRK terpilih pada pileg 2019 lalu yang sudah dua periode, lebih mencari solusi bagi rakyat, seperti yang terjadi di dapil pemilihan beliau. Dimana rumah warga hampir ambruk kesungai.
"Ancaman ini sebenarnya sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, tetapi akhir-akhir ini erosinya kian mengganas seiring hujan yang terus mengguyur kawasan itu," ungkap Azhar.
"Namun seakan pak dewan yang terhormat tidak pernah berusaha mencari solusi terhadap warga yang tinggal di pinggiran sungai tersebut," katanya.
Dikutip dari berbagai media online dan media cetak dari keterangan perangkat desa Gampong Blang Gunci melalui , Safrizal, Selasa (9/6/2020) lalu, 7 unit rumah di sepanjang bantaran Sungai Krueng Keurutoe ini benar-benar nyaris ambruk, dan bisa diketegorikan zona merah. Sehingga warga hanya pasrah karena sebagian dari mereka tidak memiliki tempat atau tanah lain untuk pindah rumah dan biaya untuk membangun rumah lain.
"Seharusnya Zubir HT lebih peka terhadap hal-hal yang demikian untuk diperjuangkan di parlemen," jelas Azhar.
Yang perlu diketahui bahwa dalam hal ini, tindakan kita murni sebagai rakyat Aceh Utara mengkritisi para wakil-wakil rakyat kita yang ada di Parlemen, seharusnya mereka bisa menyambutnya dengan baik dan ditanggapi dengan positif, arif, dan bijaksana.
"Namun sangat kita sayangkan yang terjadi malah sebaliknya, salah seorang anggota DPRK tersebut malah menuduh dan menyerang pribadi kita yang sama sekali tidak mendasar itu, tuduhan-tuduhan seperti ini sama sekali tidak pantas dikeluarkan oleh anggota dewan yang terhormat dan ini sungguh benar-benar tidak mencerminkan contoh yang baik dari seorang wakil rakyat bagi rakyatnya. Kendati demikian kita tidak ingin mengatakan bahwa Saudara Zubir ini dungu, karena bagaimanapun juga beliau ini merupakan wakil rakyat yang terhormat," tutup Azhar. (Alman)
Terkait tuduhan anggota dewan tersebut mengenai pernyataannya yang tidak mendasar itu, Alumni Sekolah Demokrasi Aceh Utara ini membantah keras akan tuduhan tersebut dan juga menanggapi bahwa pernyataan itu sangat mendasar dan jelas berdasarkan pernyataan Ketua DPRK Aceh Utara yang sebelumnya telah dimuat di beberapa media, baik itu media online maupun media cetak.
"Tidak mendasar apanya, kan jelas-jelas kita menanggapi pernyataan DPR yang sebelumnya telah dimuat dibeberapa media, baik itu media online maupun media cetak, dan publik pun sudah membaca berita tersebut. Saya heran dengan saudara Zubir, ada apa ini sebenarnya dengan dia ini, banyak sekali tuduhan-tuduhan yang tidak mendasar yang terus diutarakan kepada kita, mulai dari provokasi, statement yang tidak mendasar, hingga bahkan menaikkan pamor dan elektabilitas partai, kan sangat tidak masuk akal," jelas Azhar.
Seharusnya Zubir yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRK dan juga anggota DPRK terpilih pada pileg 2019 lalu yang sudah dua periode, lebih mencari solusi bagi rakyat, seperti yang terjadi di dapil pemilihan beliau. Dimana rumah warga hampir ambruk kesungai.
"Ancaman ini sebenarnya sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, tetapi akhir-akhir ini erosinya kian mengganas seiring hujan yang terus mengguyur kawasan itu," ungkap Azhar.
"Namun seakan pak dewan yang terhormat tidak pernah berusaha mencari solusi terhadap warga yang tinggal di pinggiran sungai tersebut," katanya.
Dikutip dari berbagai media online dan media cetak dari keterangan perangkat desa Gampong Blang Gunci melalui , Safrizal, Selasa (9/6/2020) lalu, 7 unit rumah di sepanjang bantaran Sungai Krueng Keurutoe ini benar-benar nyaris ambruk, dan bisa diketegorikan zona merah. Sehingga warga hanya pasrah karena sebagian dari mereka tidak memiliki tempat atau tanah lain untuk pindah rumah dan biaya untuk membangun rumah lain.
"Seharusnya Zubir HT lebih peka terhadap hal-hal yang demikian untuk diperjuangkan di parlemen," jelas Azhar.
Yang perlu diketahui bahwa dalam hal ini, tindakan kita murni sebagai rakyat Aceh Utara mengkritisi para wakil-wakil rakyat kita yang ada di Parlemen, seharusnya mereka bisa menyambutnya dengan baik dan ditanggapi dengan positif, arif, dan bijaksana.
"Namun sangat kita sayangkan yang terjadi malah sebaliknya, salah seorang anggota DPRK tersebut malah menuduh dan menyerang pribadi kita yang sama sekali tidak mendasar itu, tuduhan-tuduhan seperti ini sama sekali tidak pantas dikeluarkan oleh anggota dewan yang terhormat dan ini sungguh benar-benar tidak mencerminkan contoh yang baik dari seorang wakil rakyat bagi rakyatnya. Kendati demikian kita tidak ingin mengatakan bahwa Saudara Zubir ini dungu, karena bagaimanapun juga beliau ini merupakan wakil rakyat yang terhormat," tutup Azhar. (Alman)