MUSIMAN di dunia pangan adalah kepastian jadwal yang sudah tertata di alam negeri ini. Meski demikian, ketahanan pangan tidak akan mampu bertahan secara maksimal jika tidak ada perawatan, perhatian dari para pemilik lahan, dan terkhusus dari pemerintah itu sendiri.
Jika perhatian tidak maksimal, maka kita akan meningkatkan volume impor dari negara lain.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (PBS) saat ini volume impor sayuran kita berada di angka US$ 12,54 milyar di tahun 2020.
Diperkuat oleh Kepala BPS Suhariyanto, kuota impor kita itu banyak dari Negara China. Seperti barang HS atau Ampas/sisa industri makanan, angkanya sudah mencapai US$ 762,3 juta.
Kita tidak bisa diam melihat keadaan ini, sebelum angka ini meningkat lebih besar lagi dan kita akan menjadi Negara yang tergeser di sektor pangan. Padahal Negara kita adalah Negara yang agraris.
Selain itu, secara akumulasi, neraca perdagangan kita menurun atau defisit, BPS mencatat bahwa neraca perdagangan kita mengalami defisit sepanjang April 2020 dengan angka defisit US$ 350 juta.
Perbandingan angka ini bisa dilihat dari angka nilai ekspor sebesar US$ 12,19 milyar sedangkan impor US$ 12,54 milyar.
Walau jika dibandingkan dengan neraca perdagangan kita ke AS, kita mengalami surplus sebesar US$ 3,58 milyar, akan tetapi dengan China kita defisit.
PRODUKTIFKAN LAHAN
Kita menyadari akan ketidak amanan kondisi ekonomi di sektor pangan Negara kita, namun penulis menilai, secara mayoritas, kita masih terlihat diam saja seolah tidak memiliki masalah.
Mungkin karena masih ada yang kita beli, maka kita merasa aman, padahal di tengah kondisi pandemi ini, kondisi ketahanan pangan kita sudah tidak menentu harganya.
Di Sumatera Utara (Sumut) khususnya, penulis memantau keadaan pangan kita melalui aplikasi Pusat Informasi Harga Pangan Starategis Nasional (PIHPS) yang berada di Kota Medan.
Harga terpantau tidak stabil. Misalnya, pada sektor holtikultura, harga cabai merah, jika petani panen raya, tentu secara otomatis kota Medan mengalami deflasi dan berdampak terhadap nilai tukar petani.
Efeknya, harga terlalu murah dan merugikan petani dan pedagang. Permasalahan deflasi ini terpantau dari zaman orde lama hingga orde baru tetap saja seperti itu permasalahannya, tidak ada solusi sedikitpun.
Padahal, jika kita pikirkan secara seksama, sangat mudah untuk mengatasi permasalahan ini. Pertama, mencari pangsa pasar ekspor ke Negara lain. Membaca blog dari penulis yang bernama Chandrariska, yang menuliskan perjalanannya ke Itali dan Belanda.
Masalah cabai adalah sepele namun banyak diminati. Tanpa disadari, cabai merah dari Indonesia juga banyak diminati di kancah internasional.
Selain Belanda dan Jepang, banyaknya TKA yang masih merindukan kuliner nusantara, tentu selalu mencari keberadaan bahan mentah dari negaranya sendiri.
Literasi yang ditulis oleh Chandra, seharusnya menjadi pembuka semangat para ahli ekonomi di pemerintahan sebagai sumber pendapatan Negara.
Namun, acapkali kita berfikir “ah itu mah barang busuk, sampai di Negara lain, itu barang sudah busuk dan tidak laku, yang ada tekor” itulah yang ada di benak kita.
Maka tidak heran jika kondisi ekonomi makro kita tidak berdampak besar terhadap mikro. Padahal, banyak cara untuk kita internasionalkan produk kita, seperti cabai merah.
Cabai merah bisa diolah menjadi sambal kemasan yang memiliki ketahanan berbulan-bulan. Selain kemasan bisa juga dibuat balado kemasan bermerek.
Dengan demikian, para konsumen di kancah internasional mudah untuk mengenali hasil alam kita dan kita mendapatkan keuntungan dari hasil kreatifitas.
Penulis tidak mengetahui sejauh ini mengapa kita masih bertahan mengandalkan produk impor. Baik makanan terlebih teknologi. Padahal, potensi untuk menginternasionalkan produk makanan kita sangat berpeluang.
Mungkin, bisa jadi kondisi birokrasi kita yang sangat berbelit dan tumpang tindih di aspek perizinaan produk?
Tidak mungkin produk bisa di buat jika tanpa ada izin dari kementerian. Dan kita sama-sama mengetahui, sulitnya perizinan di negeri agrarian ini. (bersambung)
Harga terpantau tidak stabil. Misalnya, pada sektor holtikultura, harga cabai merah, jika petani panen raya, tentu secara otomatis kota Medan mengalami deflasi dan berdampak terhadap nilai tukar petani.
Efeknya, harga terlalu murah dan merugikan petani dan pedagang. Permasalahan deflasi ini terpantau dari zaman orde lama hingga orde baru tetap saja seperti itu permasalahannya, tidak ada solusi sedikitpun.
Padahal, jika kita pikirkan secara seksama, sangat mudah untuk mengatasi permasalahan ini. Pertama, mencari pangsa pasar ekspor ke Negara lain. Membaca blog dari penulis yang bernama Chandrariska, yang menuliskan perjalanannya ke Itali dan Belanda.
Masalah cabai adalah sepele namun banyak diminati. Tanpa disadari, cabai merah dari Indonesia juga banyak diminati di kancah internasional.
Selain Belanda dan Jepang, banyaknya TKA yang masih merindukan kuliner nusantara, tentu selalu mencari keberadaan bahan mentah dari negaranya sendiri.
Literasi yang ditulis oleh Chandra, seharusnya menjadi pembuka semangat para ahli ekonomi di pemerintahan sebagai sumber pendapatan Negara.
Namun, acapkali kita berfikir “ah itu mah barang busuk, sampai di Negara lain, itu barang sudah busuk dan tidak laku, yang ada tekor” itulah yang ada di benak kita.
Maka tidak heran jika kondisi ekonomi makro kita tidak berdampak besar terhadap mikro. Padahal, banyak cara untuk kita internasionalkan produk kita, seperti cabai merah.
Cabai merah bisa diolah menjadi sambal kemasan yang memiliki ketahanan berbulan-bulan. Selain kemasan bisa juga dibuat balado kemasan bermerek.
Dengan demikian, para konsumen di kancah internasional mudah untuk mengenali hasil alam kita dan kita mendapatkan keuntungan dari hasil kreatifitas.
Penulis tidak mengetahui sejauh ini mengapa kita masih bertahan mengandalkan produk impor. Baik makanan terlebih teknologi. Padahal, potensi untuk menginternasionalkan produk makanan kita sangat berpeluang.
Mungkin, bisa jadi kondisi birokrasi kita yang sangat berbelit dan tumpang tindih di aspek perizinaan produk?
Tidak mungkin produk bisa di buat jika tanpa ada izin dari kementerian. Dan kita sama-sama mengetahui, sulitnya perizinan di negeri agrarian ini. (bersambung)
Penulis: Alfahun Fadhly Siregar
Dosen Pertanian/Agribisnis UMSU