MEDAN | Puluhan aktivis mengecam tindakkan premanisme terhadap para aktivis yang menyuarakan kritikan terhadap kinerja pemerintah, baik di pemerintah pusat, daerah, kabupaten/kota di seluruh wilayah Indonesia.
Hal ini disampaikan para perwakilan aliansi aktivis/mahasiswa se Provinsi Sumut pada kegiatan yang dikemas untuk Silaturahmi dan Berbuka Puasa Bersama di Cafe Stadion Teladan, Jln.Jati II No.1, Teladan Barat, Kota Medan, Sumatra Utara, Sabtu (23/04/2021).
Menurut Ketua Pelaksana kegiatan, Kokoh Aprianta Bangun dan Wakil Pelaksana, Ajie Lingga, ajang silaturahmi sekaligus melaksanakan buka puasa bersama ini sengaja dibuat untuk menyatukan visi dan persepsi seluruh aliansi aktivis di Sumatera Utara ini, terhadap kasus-kasus penganiayaan rekan-rekan mereka sesama aktivis saat melakukan aksi mengkritik kebijaksanaan dan kinerja pemerintah daerah, baik di Provinsi, Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
Menurut Kokoh dan Ajie, saat ini mereka sangat kecewa atas kinerja pihak Polri, khususnya Polda Sumut yang menangani kasus penganiayaan seorang aktivis Langkat, Ahmad Zulfahmi Fikri, yang dianiaya OTK atau preman di Stabat, Kab.Langkat, pada Senin (15/02/2021) lalu.
"Rekan kita aktivis Ahmad Zulfahmi Fikri atau Fikri ini, memang kerap mengkritisi Pemerintah Kabupaten Langkat, dan menjuluki Langkat Sejuta Lubang. Fikri dianiaya oknum preman saat usai mengikuti undangan audensi dengan Bupati Langkat, Terbit Rencana PA, terkait aksi Langkat Sejuta Lubang, persis di depan Cafe Lajor di Jln.Sudirman, Stabat," terang Kokoh.
Namun, ironisnya, penanganan kasus pelaporan penganiayaan Fikri tersebut seperti jalan di tempat, bahkan diduga seperti sengaja diendapkan oleh penyidik.
"Penyidik sudah melakukan olah TKP untuk membongkar kasus tersebut. Tapi sudah hampir 2 bulan, penanganan kasusnya belum ada kejelasan. Padahal, foto serta video pelaku penganiayaan sudah diterima pihak penyidik. Kenapa penanganan kasusnya belum juga tuntas," terang Kokoh lagi.
Dalam kesempatan itu, para perwakilan aliansi aktivis, sangat mengecam keras atas lambannya pengungkapan kasus penganiayaan aktivis Langkat, Ahmad Zulfahmi Fikri.
Para aktivis bergantian menguatarakan desakan agar Kapolda Sumut, Irjen Pol.RZ Panca Putra Simanjuntak, untuk segera menuntaskan kasus penganiayaan aktivis Fikri.
"Kami meminta dan mendesak agar Kapolda Sumut, segera menuntaskan kasus penganiayaan Fikri dan menangkap para pelakunya. Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota di Sumut, jangan anti kritik. Jika masalah penganiayaan aktivis ini tidak juga dituntaskan, kami akan bersatu menggalang solidaritas sesama aktivis ke Polda Sumut," ujar para aktivis bergantian.
Aliansi aktivis itu juga meminta kepada seluruh rekan-rekan mereka agar tidak berhenti untuk melakukan kritikan terhadap pemerintah setempat.
"Karena, bentuk-bentuk intimidasi seperti penganiayaan, itu resiko perjuangan kita. Kita jangan berhenti dan harus terus mengkritisi pemerintah jika ada kebijakan yang tidak sesuai untuk memaslahatan masyarakat, penyimpangan kewenangan dan indikasi korupsi," ujar para aktivis penuh semangat.
Perwakilan aliansi aktivis se-Sumut yang hadir pada kegiatan silaturahmi dan berbuka puasa bersama tersebut antara lain : Germalab, Permasi Palas, Ikma Labura, IMTI UISU, GERM ACEH, Granat, GMMI PTKI, Sapma PP Sub-Kom FISIP UISU, Sapma PKN Kota Medan, Gempala, P2 5B, Laburaku, Germalab, ALAMP AKSI, Linkkar Sumut dan PB ALAMP AKSI.(anto/Rudi)