![]() |
Petani Padi Kabupaten Deliserdang |
Dampak dari fenomena alam ini dapat mengakibatkan kekeringan dan berpotensi mengakibatkan gagal panen dilahan persawahan masyarakat. Hingga dapat berdampak pada kurangnya produsi beras dan memicu kenaikan harga.
Pemerintah Propinsi Sumatera Utara melalui Kepala Kanwil Bulog Sumut, Arif Mandu sebelumnya menyebutkan bahwa mengantisipasi fenomena alam ini diperlukan kesiapan cadangan beras. Dan realisasinya harus berkordinasi dengan lembaga terkait seperti Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan yang ada.
Fenomena El Nino ini akan berdampak pada hasil panen masyarakat bila terjadi. Maka, langkah antisipasi harus dilakukan.
Arif menyebutkan, untuk cadangan beras titik aman stock beras Sumut itu di angka 20 hingga 30 ton untuk kebutuhan selama tiga bulan. Pemerintah pusat sudah menyalurkan 500 ribu ton beras keseluruh wilayah di Indonesia dan Sumatera Utara pada tahap pertama sekitar bulan mei 2023 itu menerima 29.000 ton beras impor yang disalurkan pusat.
Dari 29.000 ton beras yang diterima Sumut, 20 ribu ton itu disalurkan untuk Bantuan Sosial Masyarakat dalam tahap dua dan tiga dan sisanya saat ini sebagai cadangan.
Arif juga berharap hingga akhir tahun ini kalau bisa Sumut bisa menerima pasokan dari pusat tidak kurang dari 100 ribu ton sebagai antisipasi dan cadangan beras Sumut.
" Buffer Stock dan penguatan stabilitas pasokan serta harga pangan diperlukan untuk antisipasi dampak El Nino pada hasil panen padi Masyarakat," imbuhnya.
Terkait hal ini, para petani di Kabupaten Deliserdang juga sedikit cemas, karena fenomena El Nino yang disebutkan itu akhir akhir ini juga sudah mulai dirasakan dengan berkurangnya intensitas hujan dan cuaca yang cukup panas. Meski sejumlah lahan pertanian masyarakat khususnya yang memiliki saluran irigasi masih bisa mendapat pasokan air. Tapi sebagian daerah yang tadah hujan itu berdampak dan petani sawah tadah hujan ini mengandalkan Sumut bor yang mereka buat.
Meski demikian kalau El Nino itu terjadi tentunya Sumur Bor yang menjadi andalan pasokan air lahan pesawahan tadah hujan ini juga berpotensi kekurangan air untuk mengairi pesawahan masyarakat.
" Beberapa hari ini saja sudah terasa cuaca panas sekali dan lahan pertanian di Kecamatan Pantai Labu masih banyak yang tadah hujan. Sebagian ada juga irigasi, tapi kalau kemarau air dari irigasi juga terbatas sekali," ungkapnya Kamis 15/6/2023.
Menanggapi terkait ancaman fenomena El Nino dan kondisi pertanian di wilayahnya, Dinas Pertanian Kabupaten Deliserdang menyebutkan kalau sejauh ini dengan jumlah lahan pesawahan seluas 33.982 hektar masih belum ada dampak, walau disebagian daerah seperti lahan pertanian tadah hujan itu masih menjadi perhatian Dinas Pertanian Kabupaten Deliserdang untuk bagaimana pengolahan lahan pertanian mereka dapat berproduksi.
" Kita terus berkordinasi dengan kelompok dan petani dalam bagaimana meningkatkan dan menjaga stabilitas produksi gabah masyarakat. Dan dari perhitungan rata rata petani padi kita biasa dia kali panen dalam setahun," sebut Kepala bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Deliserdang Abdul Latief SP di ruang kerjanya.
Ditambahkan Latief bahwa untuk melayani pasokan air petani di Kabupaten Deliserdang, saat ini tercatat luas lahan irigasi itu sebanyak 19.187 hektar. Sedangkan lahan tadah hujan itu mencapai 14.805 hektar.
" Untuk hasil panen padi perhektar ini rata rata 5,8 sampai 6,2 ton perhektar dan angka ini bisa lebih bila hasil panen masyarakat baik," sebut Latief.
Untuk mendukung peningkatan produksi pertanian masyarakat saat ini Kabupaten Deliserdang memiliki tenaga PPL itu sebanyak 157 orang yang terdiri dari PNS, P3K, THLTB Propinsi dan tenaga honor Kabupaten Deliserdang. Meski idealnya itu baiknya satu orang PPL itu dapat bertugas disatu desa. Sementara jumlah Desa di Kabupaten Deliserdang ini sebanyak 380 desa.
" Dinas Pertanian Kabupaten Deliserdang saat ini tentunya terus berupaya bagaimana meningkatkan produktifitas tanaman pertanian masyarakat dengan menggandeng kelompok dan masyarakat dalam pengelolaan tanaman yang lebih baik hingga dapat memiliki hasil yang optimal," jelasnya.
Sementara itu, tanggapan dari tokoh masyarakat Kabupaten Deliserdang Eko Sopianto SE, berpendapat terkait impor beras Pemerintah dalam menjaga stabilitas harga beras dalam negeri mengatakan, bahwa kebijakan pemerintah itu tentunya sudah melalui mekanisme dan kajian, hingga melakukan impor beras mengantisipasi hal hal yang diprediksi dapat terjadi.
" Jadi, Pemerintah itu melakukan impor beras dengan kemungkinan kemungkinan yang sudah melalui kajian,terlebih lagi dampak dari perubahan cuaca atau fenomena El Nino, dengan kondisi alam yang kemarau panen pertanian masyarakat itu khususnya persawahan akan kering dan tidak bisa memproduksi padi,akibatnya petani bisa gagal panen dan berpengaruh pada stabilitas pasokan yang dapat mendongkrak kenaikan harga beras. Kalau sudah beras mahal, rakyat pasti akan bergejolak, untuk itu kebijakan itu perlu dilakukan pemerintah dalam mengantisipasi hal ini dengan langkah Impor yang tentunya juga sesuai kebutuhan," paparnya.( Wan)