MEDAN | Sejumlah siswa di antaranya yang berprestasi pada even Student Athletic Championship (SAC) se-Sumatera, mengharumkan nama Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Medan mengeluhkan dugaan minimnya perhatian dari Kepala Sekolah (Kepsek) Ida Farida SPd MM.
Sebagaimana dilansir
Metro Kampung, sekolah hanya memfasilitasi lapangan untuk berlatih saja. “Sedangkan untuk alat-alat praktek beli sendiri kami," ujar salah satu siswa, pemenang medali perunggu SAC Tahun 2024, Selasa (22/10/2024).
Tidak sampai di situ, saat siswa/i ini berlatih dan menang menjadi juara, sekolah hanya memberi bantuan moril dan uang saku sebesar Rp500 ribu per siswa. Begitu juga saat siswa/i tersebut menjadi juara 1 cabor tolak peluru di ajang Pekan Olahraga Pelajar Provinsi Sumatera Utara (Porprov Sumut) tahun 2024 mewakili Kota Medan, tidak ada bonus yang diberikan sekolah maupun Dispora Medan.
Sementara pengakuan siswa/i itu Pemko Medan yang diwakilkan Dispora Medan, berjanji akan memberikan bonus kepada para juara tapi hingga berita ini diterbitkan bonus tersebut tidak kunjung ada.
"Kemarin saat kami juara di Porprovsu, Kadispora Medan berjanji akan memberikan bonus kepada para juara. Tapi sampai saat ini bonus itu tidak pernah kami terima bu," jelasnya.
Hal ini dibenarkan salah satu guru yang mengajar di SMK Negeri 2 Medan yang juga sebagai guru pelatih siswa/i SMK Negeri 2 Medan yang akan berangkat mengikuti seleksi kejuaraan SAC tingkat Nasional di Solo pada 2025 mendatang.
"Untuk saat ini sekolah belum ada memberikan bantuan ataupun bonus kepada siswa/i kita yang telah memenangkan beberapa kali kejuaraan," katanya.
Untuk itu, dirinya sudah mengajukan ke sekolah untuk memberikan beasiswa berupa gratis uang SPP kepada siswa/i yang berprestasi itu.
"Saat ini sekolah tidak bisa memberikan bonus bagi para siswa/i yang juara. Dan ini lagi kami ajukan ke sekolah agar siswa/i yang berprestasi ini mendapat bantuan gratis uang sekolah,"ucapnya.
Lelaki berkulit hitam ini mengaku, SMK Negeri 2 Medan tidak memiliki ekskul (ekstra kurikuler) hanya ekskul Pramuka. Itupun guru/pelatihnya tidak digaji, makanya tak ada kegiatan apapun. Siswa/i yang memenangkan beberapa cabang olahraga (cabor) di beberapa perlombaan hanya berlatih secara mandiri.
Padahal menurutnya, ekskul khususnya atletik sangat dibutuhkan di sekolah itu. Karena dari jumlah siswa 2000 lebih, banyak siswa siswi yang berprestasi di bidang atletik.
"Di sinilah masalahnya, tidak ada ekskul untuk beberapa cabor. Alasan sekolah tidak memiliki dana, padahal dari dana BOS ada itu," urainya.
Kalaupun ada ekskul karate itupun baru dimulai bulan September. Pelatihnya didatangkan dari luar daerah dan infonya si pelatih karate masih ada hubungan keluarga dengan salah seorang kepala sekolah di Medan.
Keterbatasan
Sementara Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Medan Ida Farida SPd MM mengaku dana BOS separuhnya sudah habis untuk biaya praktik anak didiknya. Ida pun mengaku dirinya tetap support siswa/i yang berprestasi, tetapi karena keterbatasan dana sehingga tidak bisa memberikan bantuan secara maksimal.
"Apa lagi biaya praktik untuk jurusan bangunan sangat mahal. Saya aja terkejut, 1 besi 1 anak saja udah berapa harganya iya kan?" ujarnya.
Ida pun menjelaskan, jumlah siswanya 2000 orang, setengah dari dana BOS digunakan untuk membayar gaji guru honor yang berjumlah 68 orang dari 127 orang guru yang mengajar di SMK Negeri 2 Medan.
"Bukan kita tidak support, kita pun pengen semuanya ditampung. Tapikan karena keterbatasan dana itu jadi tidak bisa berbuat banyak," jelasnya.
Sementara itu, pengamat anggaran Elfanda Ananda mengatakan sangat disayangkan kalau ada siswa yang berprestasi mewakili sekolah dan Provinsi Sumut kurang mendapat perhatian dari sekolahnya sendiri. Kenapa demikian sikap sekolah ini dengan alasan pendanaan.
"Seharusnya soal anggaran untuk kasus seperti ini jangan sampai menghambat kreativitas dan kualitas SDM dari para siswa yang ada. Justru pihak sekolah harus dapat mengatasi persoalan anggaran dengan upaya lainnya. Misalkan saja lewat dinas Pendidikan, lewat alumni dan sebagainya," ujarnya.
Sambungnya, hal ini sangatlah memalukan bagi dunia Pendidikan, seandainya prestasi siswa harus terkendala hanya karena anggaran. Padahal, diketahui pemerintah daerah bukannya tidak mampu dari sisi anggaran untuk mendukung prestasi para siswa.
Dinas Pendidikan Provinsi harus membuat kebijakan dalam mengatasi persoalan ini dengan aturan yang ada. Jangan sampai pemerintah daerah lepas tangan padahal event ini mewakili provinsi Sumut.
"Pihak sekolah sendiri juga jangan diam saja bahkan terkesan lepas tangan dengan alasan ketiadaan anggaran. Seharusnya dalam penyusunan program dan kegiatan juga anggaran harus dipastikan tersedia anggaran untuk persoalan yang implikasinya membawa nama harum sekolah," tegasnya.
Jangan sampai sekolah abai dan tidak mau tahu pada persoalan ini. Seharusnya sekolah bisa juga membangun komunikasi dengan para alumni yang punya kemampuan dalam hal membantu peningkatan prestasi para siswa.
"Kita tahu bahwa peran alumni bisa dimaksimalkan sepanjang dikomunikasikan dengan baik. Problem yang ada saat ini komunikasi antara sekolah dengan para alumni kurang begitu terjalin secara baik. Sehingga sulit kalau menghubungi alumni kalau hanya pada saat butuh dukungan," tambahnya.
Sebaiknya, pihak dinas Pendidikan sumut dan sekolah bekerja sama membantu siswa berprestasi membawa nama baik sekolah dan pemerintah provinsi Sumut mengatasi persoalan ini. Jangan biarkan bakat-bakat siswa yang sebenarnya punya potensi untuk ditingkatkan terkendala disebabkan ketidak pedulian pihak sekolah dan pemerintah Provinsi.
"Adapun pengelolaan dana BOS yang ada tentunya dapat dikelola secara transparan agar akuntabilitas program ini dapat mendapat kepercayaan publik," pungkasnya. (ROBS)